Di Mana Hati Kita Saat Dunia Sibuk?

 



Di Mana Hati Kita Saat Dunia Sibuk?

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)

 

Aku duduk sendiri malam ini.
Menatap bisingnya dunia dari balik jendela.
Lampu-lampu jalan seperti tidak pernah tidur. Kendaraan berlalu-lalang, orang-orang berjalan cepat, mengejar entah apa.
Di dalam hati aku bertanya:
"Untuk apa semua ini, jika pada akhirnya kita tetap akan mati?"

Kadang aku takut bertanya, karena jawabannya terlalu jelas.
Kematian bukan sesuatu yang jauh. Bukan sekadar berita di koran.
Kematian itu dekat, bahkan lebih dekat daripada detak jantung terakhir kita.
Allah SWT mengingatkan:

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali Imran: 185)

Namun hari ini, manusia lupa.
Orang-orang seperti sudah tidak peduli lagi pada kematian.
Seolah-olah hidup ini adalah segalanya.
Mereka bekerja dari pagi hingga malam hanya untuk menumpuk dunia.
Mereka iri jika orang lain punya lebih.
Mereka tersenyum sinis jika ada yang mengingatkan tentang akhirat.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Tetapi kenapa di zaman ini orang justru menghindari membicarakan kematian?
Bahkan sering dianggap topik yang tidak penting, dianggap tabu, dianggap bikin suasana “nggak enak”.


Kita Lupa untuk Apa Hidup

Kita lupa bahwa hidup bukan hanya untuk makan, tidur, bekerja, dan bersenang-senang.
Kita lupa bahwa dunia ini hanyalah jembatan menuju kehidupan yang sebenarnya.
Dunia ini seperti persinggahan bagi musafir.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang pengembara.” (HR. Bukhari)

Namun lihatlah kita hari ini.
Kita hidup seperti akan tinggal selamanya.
Kita menabung seolah takkan pernah meninggalkan harta itu.
Kita bermegah-megahan, kita saling iri, saling benci, hanya karena urusan dunia yang fana.

Seakan-akan kita lupa bahwa tanah kubur sudah menunggu.
Bahwa kita tidak akan membawa apapun kecuali tiga perkara: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak shalih.


Mengapa Kita Harus Mengingat Kematian?

Aku mengingatkan diriku sendiri malam ini.
Bahwa mengingat kematian bukan untuk membuat hidup ini jadi muram.
Tetapi agar kita tidak terlalu terpedaya oleh fatamorgana dunia.
Karena dunia ini, sebagaimana firman Allah:

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan saling bermegah-megahan di antara kalian serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Rasulullah ﷺ pun mengajarkan kita untuk selalu mempersiapkan bekal.
Beliau bersabda:

“Orang yang cerdas adalah orang yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah.” (HR. Tirmidzi)

Mengapa kita harus mengingat kematian?
Karena dengan begitu, kita akan lebih berhati-hati dalam berkata.
Lebih berhati-hati dalam bertindak.
Lebih ikhlas dalam beramal.
Dan lebih ringan dalam memaafkan.


Apa yang Harus Kita Lakukan?

Aku berbicara pada diriku sendiri, dan pada siapa saja yang membaca ini:
Kalau kita sudah tahu bahwa dunia ini hanya sebentar, bahwa akhirat itu pasti, bahwa kematian itu sudah menunggu, lalu apa yang sudah kita persiapkan?

Bukan berarti kita tidak boleh bekerja, tidak boleh bermimpi, tidak boleh mencari harta.
Islam tidak pernah melarang kita untuk sukses di dunia.
Tetapi jangan sampai dunia itu menutup hati kita dari akhirat.
Jangan sampai harta itu jadi hijab antara kita dengan Allah.

Persiapkan diri dengan amal yang baik.
Lakukan apa yang bisa dilakukan, meski kecil.
Berhenti menunda taubat.
Berhenti menunda sedekah.
Berhenti menunda kebaikan.


Akhirnya: Dunia Ini Bukan Segalanya

Aku menutup mataku malam ini sambil berkata:
Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan benci.
Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan rakus.
Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan lupa pada akhirat.

Mari kita ingat kembali firman Allah:

“Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan permainan dan senda gurau. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenar-benarnya kehidupan, kalau saja mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64)

Jangan menunda sampai ajal datang tiba-tiba.
Jangan tertipu oleh dunia yang mempesona.

Kita semua sedang berjalan di jalan yang sama, menuju ujung yang sama: liang lahat yang gelap, sunyi, hanya ditemani amal-amal kita.

Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang lalai.
Semoga kita selalu diberi taufik untuk mengingat-Nya, untuk mempersiapkan bekal, dan untuk memperbaiki diri sebelum terlambat.
Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

Komentar